GERAKAN MAHASISWA INTERNASIONAL:
Revolusi dan Kontra-Revolusi
Swadi Sual
“Semakin aku terlibat dalam revolusi, semakin aku menikmati cinta.”
Serangkaian peristiwa global dari tahun 60an sampai 70an dapat disebut sebagai periode gerakan mahasiswa. Perlawanan mahasiswa bukan hanya menentang kapitalisme tetapi juga negara sosialis pada masa itu. Menentang otoritas patriarkis yang eksploitatif negara-negara kapitalis di barat – Amerika Serikat dan Eropa Barat – serta menentang otoritarianisme negara-negara sosialis di timur – Uni Soviet dan Cina. Rangkaian peristiwa ini disebut gerakan Kiri Baru (New Left). Pergerakan pemberontakan karena pengaruh atau digerakkan oleh kekuatan cinta yang menular (eros effect). Masa ini menandai ‘erotisisasi’ gerakan politik lewat semboyan The more I make revolution, the more I enjoy love. “Semakin aku terlibat dalam revolusi, semakin aku menikmati cinta.” Gerakan ini adalah protes terhadap perang dengan jalan damai, bukan revolusi berdarah. Dua peristiwa penting dari periode ini adalah serangan umum bulan Mei 1968 di Prancis dan erupsi gerakan kampus bulan Mei sampai September 1970 di Amerika Serikat

George Katsiaficas membuka bab pertama bukunya, The Global Imagination of 1968: Revolution and Counterrevolution)1Lihat Katsiaficas, George. The Global Imagination of 1968: Revolution and Counterrevolution. PM Press. Michigan. 2018. George Katsiaficas adalah seorang aktivis dan sejarawan dari Amerika Serikat, murid langsung dari seorang teoretisi Kiri Baru (New Left): Herbert Marcuse. Dia berkunjung ke Manado tahun 2023 dan menyerahkan sendiri bukunya kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Manado. Tulisan ini sebagian besar didasarkan dari bukunya dan bertujuan untuk memberikan uraian tentang gerakan mahasiswa internasional sebagai perbandingan dan bahan evaluasi untuk gerakan mahasiswa di Indonesia., dengan sebuah kutipan dari pemikiran G. W. F. Hegel,
“As the essence of Matter is Gravity, so, on the other hand, we may affirm that the substance, the essence of Spirit is Freedom.”.
Kurang lebih artinya, sebagaimana gravitasi adalah ruang dari materi, sebaliknya kebebasan adalah ruang dari jiwa. Menurut Hegel, gerak sejarah dan peradaban dunia yang dialektis ditentukan oleh ide2Lihat karyanya The Phenomenology of Spirit, The Philosophy of Mind, dan The Philosophy of History. Dalam tradisi filsafat dualisme yang membagi manusia menjadi dua unsur utama yaitu tubuh dan jiwa, hakikat dari jiwa adalah pikiran dan hakikat dari tubuh adalah perluasan. Hegel melihat idea, jiwa, roh, dan rasio adalah penggerak dunia materil; mengarahkan sejarah peradaban manusia.. Kata ide (idea), akal (reason/ratio), roh/jiwa/semangat (spirit), dan bebas (free) dalam bahasa Jerman adalah geist. Kata yang memiliki banyak arti ini menjadi dasar dari filsafat idealisme Hegel. Dalam tradisi kritik marxis yang berbasis dialektika materialis, pembukaan bab itu terasa kontradiktif. Oleh karena kaum marxis berdasar pada tesis Karl Marx tentang kesadaran yang ditentukan oleh keadaan sosial sebagai basis materialnya. Di mana kaum buruh akan sadar akan kondisi ketertindasannya dan akan bersatu membuat gerakan revolusioner yang dianggap gerakan politik berdarah karena menggunakan kekerasan untuk merebut kekuasaan. Tetapi nampaknya karakter gerakan tahun 60-an di abad XXI, ide-lah yang menjadi landasan rangkaian gerakan global yang disebut politik ‘cinta’ (political eros). Jutaan orang digerakan oleh kesadaran praksis yang disebut oleh Hegel sebagai dialektika pikiran (the dialectic of mind). Manusia memiliki kebutuhan instingtual akan kebebasan, sebagaimana menurut Herbert Marcuse, dan itulah yang menggerakkan mereka; cinta akan kebebasan.
Gerakan global Kiri Baru memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Menentang dominasi rasial, politik, patriarki, dan eksploitasi ekonomi
- Konsep kebebasan untuk menciptakan ‘kemanusiaan’ yang baru
- Perluasan ruang demokrasi dan hak individu
- Perluasan basis revolusi, dan
- Penekanan pada aksi langsung.
Gerakan Kiri Baru tidak hanya menentang soal dominasi politik dan ekonomi tapi lebih luas menentang dominasi dalam kehidupan sehari-hari (colonization of everyday life)3Lihat karya Herbert Marcuse berjudul Manusia Satu Dimensi (One-Dimensional Man) seperti birokrasi, eksploitasi ekonomi, penindasan terhadap perempuan, represi terhadap anak, homophobia, dan rasisme. Semua itu adalah produk dari budaya kapitalisme patriarkis yang hegemonik. Sehingga gerakan kontra-budaya muncul dalam bentuk budaya negro dan budaya chicano (Mexico-Americanos)4Mahasiswa Asia-Amerika juga memaksa agar mereka tidak lagi disebut sebagai orientals yang dinilai sebagai sebutan diskriminasi rasial. yang anti rasisme superioritas kulit putih, budaya perempuan yang anti patriarki, budaya homoseksual, dan budaya baru generasi muda. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap imperialisme budaya dan konsumerisme. Bangkitnya eksistensialisme, terutama karya Kafka, dan serangkaian musik perlawanan seperti musik jazz, blues, rock, pop art, dan juga teori dari mazhab Frankfurt School memberikan sumbangan dalam jiwa gerakan Kiri Baru. Tahun 1968 adalah tahun di mana terjadi Revolusi Industri Ketiga yang menciptakan kelas pekerja baru. Di mana Revolusi Industri Pertama melahirkan kelas pekerja, Kedua melahirkan buruh (petani tanpa kepemilikan tanah), dan Ketiga melahirkan kelas pekerja baru yang meliputi teknisi, pekerja professional, pekerja kantoran, pekerja layanan khusus, dan mahasiswa. Karena kegagalan kepeloporan partai dalam revolusi, gerakan Kiri Baru tidak melihat partai komunis sebagai rekan perjuangan. Di Italy, pergerakannya di satu sisi menentang ide konservatisme dan di sisi lain menentang kiri tradisional; kiri yang ‘tidak dianggap kiri lagi’ karena telah menjadi agen kapitalis yang bertujuan untuk melakukan reformasi. Intelektual organik yang diharapkan menjadi pelopor pemimpin kaum buruh justru pada kenyataannya mudah dibeli sehingga menimbulkan ketidakpercayaan terhadap organisasi dan partai politik kiri tradisional (marxis-leninis). Dalam upaya pembebasan, semboyan “Kedaulatan Rakyat Total” (All Power To People) adalah pegangan politik mereka dan tidak lagi mengacu pada konsep diktator proletariat. Karakteristik organik dari gerakan 1968 juga adalah perjuangan feminisme, anti rasisme, kritik terhadap ketimpangan ekonomi, dan melawan perusakan lingkungan. Gerakan mereka cenderung konjungtural spontan dan tiba-tiba tanpa komando struktural yang sentralistik dan ‘tanpa rencana’. Karakter pergerakan ini yang membedakannya dengan gerakan organik Gramscian. Mereka lebih mengutamakan pada aksi langsung (direct action) sebagai solusi tanpa harus mengorganisir secara struktural seperti gaya gerakan kiri tradisional.
Kemenangan Vietnam terhadap Amerika Serikat memberikan landasan bagi gerakan internasional untuk bersatu. Selain itu, kematian Che Guevara pada 1967 juga memberikan energi serta menjadikan strategi gerilyanya sebagai teori foco. Teori ini adalah gerakan yang bertumpu pada kelompok gerilyawan kecil yang konsisten dalam perjuangan. Jadi kalau partai komunis fokus pada pembangunan kekuatan di wilayah perkotaan sebagai basis kaum buruh, gerilyawan membangun basis kekuatan di antara para petani. Mereka tidak percaya pada transisi damai selain menggulingkan kekuasaan secara paksa. Strategi serang tiba-tiba dan kemudian menghilang adalah ciri khas gerilyawan. Gerakan gerilyawan kota yang kebanyakan berasal dari golongan mahasiswa juga mengadopsi strategi semacam itu. Gerakan ini membingungkan aparat karena sulit dipetakan orang-orangnya dan tidak bisa diprediksi langkah selanjutnya.
Prancis 1968. Gerakan di bulan Mei 1968 di Prancis memecahkan mitos ‘matinya ideologi’ pasca Perang Dunia II. Hal itu mengejutkan Presiden Charles de Gaulle karena gerakan itu tak direncanakan dan tak disangka-sangka. Tetapi itu kemudian menjadi inspirasi gerakan mahasiswa di berbagai negara di enam benua. Peristiwa demonstrasi di bulan Mei itu adalah gabungan dari kekuatan mahasiswa dan buruh pekerja. Walaupun awalnya gerakan itu dicibir oleh Partai Komunis Prancis (Parti Communiste Français) dan Konfederasi Organisasi Buruh (Confédération Générale du Travail) yang menyebut mahasiswa sebagai anak-anak bos borjuis besar. Pada masa itu jutaan orang menolak melakukan aktivitas sehari-hari mereka. Para pelajar mahasiswa menutup universitas dan menuntut perubahan gaya pendidikan. Para buruh pekerja mengambil alih perusahan dan perkantoran lalu menuntut perubahan dan gaya baru produksi. Gerakan itu berlangsung selama enam hari di Nantes sebagai pusat serangan dan kurang dari 30 hari menyebabkan kekacauan di Paris dalam bentrokan dengan polisi untuk mengambil alih kota. Pemerintah mengerahkan aparat kepolisian untuk menyerang kampus-kampus sehingga menyebabkan ratusan mahasiswa ditahan dan yang lainnya luka-luka karena kekerasan aparat.
Banyak orang sudah meninggalkan Partai Komunis Prancis dan berbagai organisasi afiliasinya karena mereka menolak mendukung Front Nasional Pembebasan Algeria (Algerian Front de Libération Nationale). Oleh karena di masa tahun 50-an dan 60-an masyarakat mendukung gerakan antikolonial di Vietnam dan Algeria. Hal itu juga yang mempengaruhi gerakan pan-Eropa anti intervensi Amerika Serikat di Vietnam yang sebelumnya dibahas ratusan aktivis dalam konferensi internasional di Berlin pada bulan Februari 1968. Partai-partai kiri tidak lagi dilihat sebagai representasi dari kaum buruh pekerja karena dianggap telah menjadi kaki tangan kekuasaan. Belum lagi terjadinya pengkhianatan partai-partai kiri yang berkiblat ke Uni Soviet yang mengkhianati gerakan rakyat seperti di Yunani dan Nikaragua. Ini membuat gerakan Mei 68 tidak lagi berkiblat pada partai politik dan organisasi buruh. Partai dan organisasi tidak terlibat dalam penggerakan massa. Solidaritas ini dipicu oleh kesadaran mahasiswa karena literasi dan keadaan objektif pada masa itu. Sejarawan Eric Hobsbawn melihat basis material dari pemberontakan global ini, selain ketersediaan bacaan di toko-toko buku, juga karena teknologi komunikasi seperti televisi dan radio yang memungkinkan para mahasiswa mengetahui apa yang sedang terjadi di berbagai tempat dalam waktu bersamaan serta perkembangan kecepatan teknologi transportasi yang bisa membuat mereka terhubung dalam solidaritas internasional.
Akar peristiwa bulan Mei tidak hanya karena kuantitas perubahan produksi industri yang dramatis. Tetapi adanya perpindahan massa dari desa ke kota karena industrialisasi agrikultur. Dari 9.000.000 pekerja penggarap tanah (petani) pada tahun 1921 menjadi 7.500.000 pada tahun 1946, dan tersisa 3.000.000 pada tahun 1968. Dari proses industrialisasi ini sekolah dan universtitas memainkan peran yang penting. Industri skala besar membutuhkan teknisi untuk menjalankan peralatan produksi, membutuhkan manajer administrasi, psikolog untuk menumbuhkan semangat kerja, spesialis periklanan untuk pemasaran, dan sosiolog untuk merawat keseluruhan sistem sosial. Pendidikan yang dijalankan oleh negara, yang berorientasi pada kepentingan industri, menimbulkan krisis karena kegagalan negara membaca akomodasi tenaga kerja di kemudian hari. Belum lagi kesadaran mahasiswa melihat sistem pendidikan yang membunuh daya kritis dan lebih mengajarkan keterampilan teknis yang bisa tak dibutuhkan lagi dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan atau sering tidak berhubungan dengan kenyataan sosial. Hal itu diungkap oleh Wakil Presiden Serikat Pelajar Nasional Prancis (Union Nationale des Étudiants de France) Jacques Sauvageot,
“Students are expected to have a certain critical intelligence, while their studies are such that they are not allowed to exercise it. On the other hand, they realize that in a few years’ time they will not able to find a part to play in society that corresponds to their training.”
Revolusi Industri Ketiga menciptakan kelas pekerja baru atau yang disebut pekerja kerah putih (white-collar workers) seperti peneliti, teknisi, sekretaris, dan guru. Melalui pendidikan berorientasi industri mereka menjadi kelas kaum proletar (proletarianization of intellectuals). Dalam sistem kapitalisme monopolistik ini kesatuan kepemilikan dan penguasaan alat-alat produksi dipecah dalam struktur-struktur baru yang menciptakan pembagian kelas pekerja. Struktur organisasi keuangan dan korporasi skala besar ini menciptakan kelas pekerja yang bertanggung jawab sebagai manajer dan analis sistem yang dulunya dilakukan oleh pemilik dan pengelola tunggal. Hal ini menciptakan lapangan pekerjaan yang menyerap pekerja dalam bidang supervisor dan spesialis. Periode ini menciptakan konflik antara teknokrat sebagai pemberi perintah dan teknisi yang menerima perintah. Kaum teknokrat adalah intelektual yang disewa oleh para kapitalis besar dan kaum teknisi adalah pekerja terampil yang diarahkan oleh kaum teknokrat. Keduanya sama-sama proletar karena tidak memiliki alat-alat produksi. Mereka hanya menukar jasa kerja berpikir dan kerja fisik dengan upah.
Selanjutnya, dengan berbagai teknik pemasaran (marketing) yang menggunakan ahli psikologi, kapitalisme menemukan pasar baru dengan teknik manipulasi budaya dan manipulasi kebutuhan psikologis untuk meningkatkan keuntungan (profit). Ahli periklanan dan pemasaran merancang teknik yang ‘wah’, yang juga menggunakan seni dan erotisme seksualitas, untuk merangsang kebutuhan alam bawah sadar dan hasrat untuk membuat produk mereka laku terjual. Bukan hanya soal pasar ekonomi tapi juga berlaku dalam hal pasar politik. Kebutuhan yang dipaksakan ini berkerja secara terselubung di belakang kebebasan memilih – seperti lewat gawai pintar (smartphone) sekarang ini –, memilih politisi cantik, dan berbagai produk yang menjanjikan hadiah lewat pembelian tertentu. Di sini, seni kaum dadaisme, surealisme, musik jazz bebas, dan teater eksperimental memainkan peran kontra-kultur (budaya tandingan). Tujuannya adalah menciptakan hasrat dan imajinasi yang kembali pada keadaan natural kesadaran manusia menentang struktur manipulatif yang dibangun oleh kapitalisme lewat produk seni budaya.
Amerika Serikat 1970. Pada bulan Mei 1970, pemberontakan paling besar di Amerika Serikat pecah. Empat juta orang melakukan serangan menutup gedung-gedung pendidikan tinggi. 35 ribu angkatan bersenjata (National Guard) dikerahkan di 16 negara bagian untuk menumpas gerakan itu. 4 Mei 1970 empat mahasiswa terbunuh di Universitas Negeri Kent (Kent State University) Ohio. Selang waktu beberapa hari 2 mahasiswa ikut terbunuh di Universitas Negeri Jackson (Jackson State University). Kematian para mahasiswa ini memicu gelombang besar perlawanan berbasis kampus. Pertama kali dalam sejarah, kampus-kampus dikepung dengan senjata laras panjang setelah para gubernur Ohio, Kentucky, Michigan dan Carolina Selatan mengumumkan kampus dalam keadaan darurat. Para demonstran yang meninggal adalah William K. Schroeder, Allison B. Krause, Jeffrey G. Miller, dan Sandra L. Scheuer, James Earl Green, dan Philip Lafayette. Serangan mahasiswa terhadap universitas bukan sekedar mogok tapi mereka meminta untuk merumuskan kembali hal-hal mengenai hubungan internasional, penelitian ilmiah, dan cita-cita negara. Setelah insiden kematian dan penganiayaan, mahasiswa merumuskan tiga tuntutan yang kemudian diterima di seluruh negeri sebagai tuntutan bersama.
- Pemerintah Amerika Serikat segera menghentikan eskalasi Perang Vietnam yang merambat ke Kamboja dan Laos, serta segera menarik pasukan dari Asia Tenggara;
- Pemerintah Amerika Serikat segera mengakhiri serangan sistematis terhadap aktivis politik dan segera membebaskan tahanan politik, secara khusus membebaskan Bobby Seale dan anggota lain dari Partai Black Panther;
- Semua universitas harus mengakhiri keterlibatan mereka dengan pemerintah Amerika Serikat, sebagai mesin perang dalam penelitian pertahanan Reserve Officer Training Corps (ROTC), penelitian kontra pemberontakan, dan semua program sejenis.
Protes terhadap intervensi politik Amerika Serikat di Vietnam menjadi isu internasional yang juga dilakukan oleh mahasiswa AS sendiri. Protes di jantung negara kapitalis dan imperialis besar terbesar di dunia. Di masa itu, Ho Chi Minh menjadi lebih terkenal daripada Presiden Richard Nixon dan Che Guevara menjadi simbol perjuangan. Amerika Serikat berusaha mencampuri politik di berbagai belahan dunia karena persaingannya dengan Uni-Soviet untuk menguasai dunia. Tahun 50an di Korea terjadi perang antara Korea Selatan yang didukung AS dan Korea Utara yang didukung Uni-Soviet, di Vietnam juga begitu di tahun 70an. Sementara di Amerika Latin juga terjadi pemberontakan melawan dominasi politik AS dan sistem kapitalisme. Di sinilah tempat lahirnya teologi pembebasan (theology of liberation) ketika para pendeta Kristen (Katolik) bergabung dalam gerakan gerilya di Peru, Venezuela, Columbia, dan Guatemala. Mereka meradikalisasi gereja menjadi alat perjuangan melawan eksploitasi ekonomi terhadap sumber daya dan kekayaan alam negara. Para pendeta dipanggil berjuang untuk menjadi nabi yang membawa keadilan. Ini adalah keunikan dari gerakan Kiri Baru karena agama yang menurut kiri tradisional (marxis-leninis) dianggap sebagai bagian dari alat eksploitasi kelas, kini telah berubah menjadi alat perjuangan kelas.
Pergerakan di Amerika Serikat berbasis kelompok perempuan, kelompok negro, mestizo, dan kelompok hippies. Semua gerakan ini juga mendapat dukungan dari dalam militer AS sendiri, para veteran. Dalam hal seni budaya, punk adalah satu dari berbagai gerakan kontrakultur di AS yang baik dari segi gaya dan musik mereka menentang kemapanan budaya yang sesuai standard kapitalisme. Sementara budaya hippies menentang maskulinitas militeristik dan hidup sukses yang sesuai standard kapitalisme di usia yang masih relatif muda. Kaum hippies yang awalnya apolitis berubah menjadi yippies (youth international party) dan memimpin seni avant–garde sebagai gerakan politik radikal. Mereka adalah contoh gerakan yang mengorganisir diri sendiri yang menentang dominasi dan ‘keseriusan5Bandingkan dengan budaya yuppies (youth urban professionals) yang membedakan diri mereka dengan generasi pemabuk (alkoholik) dan pecandu narkoba (hippies).. Era ini juga adalah titik bangkitnya postmodernisme yang mempengaruhi berbagai bidang seni dan ilmu humaniora lainnya. Dalam Plenary Session of the Revolutionary People’s Constitutional Convention para seniman mengemukakan pendapat bahwa setiap orang memiliki potensi kreatif yang harus mendapat ruang ekspresi, seni adalah ekspresi kreatif atau cara hidup, setiap budaya dengan bentuk ekspresinya harus dilestarikan, diperkuat, dan dikembangkan, dan seni harus mengabdi pada kepentingan, kebutuhan, dan aspirasi rakyat. Ini merupakan perlawanan terhadap seni konvensional yang bentuk ekspresinya telah mapan (established).
Pada 5 – 7 September ribuan orang, termasuk mahasiswa, kaum feminis, gay, suku Indian (native American), dan berbagai orang lintas ras bergerak menuju Philadelphia sebagai solidaritas menjawab panggilan Black Panther Party untuk Revolutionary People’s Constitutional Convention (RPCC). Mereka menuntut perubahan dalam bidang politik internasional termasuk imperialisme AS di negara-negara dunia ketiga. Mereka juga mendukung perjuangan rakyat Palestina bebas dari kolonialisme Zionis. Ada lima belas tuntutan spesifik yang tercantum dalam naskah. Selain itu mereka juga mengemukan hal-hal yang berkaitan dengan hak perempuan, hak anak, hak pendidikan, hak mahasiswa, hak kaum gay, hak kesehatan (health care), dan kritik terhadap perang. Hak mahasiswa terutama soal kebebasan mengemukakan pendapat, berpakaian, dan berserikat. Dalam hal organisasi kemahasiswaan di dalam kampus mereka menolak kontrol atas pers mahasiswa, dan semua kegiatan mahasiswa adalah tanggung jawab mahasiswa itu sendiri.
Eros Effect.Tahun 60an dan 70an merupakan pemberontakan mahasiswa yang menjadi semangat zaman (zeitgeist). Sekalipun gerakan itu tidak mengubah tatanan dunia secara radikal pada masanya tetapi setidaknya itu telah memberi pelajaran sejarah yang mengangkat isu-isu tentang hak-hak manusia yang mendasar dan terabaikan. Katsiaficas mencatat gerakan pemberontakan mahasiswa yang dipengaruhi eros effect terjadi di berbagai belahan dunia seperti wilayah Asia (Korea Selatan, Cina, Jepang, Filipina, Thailand, India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Iran, Dunia Arab: Tunisia, Mesir, Irak, dan Turki) wilayah Pasifik (Australia dan Selandia Baru), wilayah Afrika (Nigeria, Senegal, Afrika Selatan, Kongo-Kinshasa, Ghana, Zimbabwe Zambia, Ethiopia, Angola, Mozambik, Guinea-Bissau, dan Kurkina Faso), wilayah Eropa (Jerman Barat, Italia, Spanyol, Belanda, Denmark, Belgia, Inggris, Yunani, dan Portugal) wilayah Eropa Timur: Kiri Baru vs Kiri Lama (Yugoslavia, Cekoslovakia, dan Polandia), wilayah Amerika Latin (Meksiko, Kolumbia Peru, Venezuela, Argentina, Uruguay, Brasil, dan Chili) , wilayah Amerika Utara (Kanada, Karibia, Jamaika, Barbados, Trinidad dan Tobago, dan Bermuda), dan wilayah Amerika Serikat.
Pada masa Revolusi Kebudayaan tahun 1967 di Cina terjadi pertumpahan darah antara sesama Red Guard, organisasi paramiliter pelajar dan mahasiswa pendukung Mao, yang memperebutkan dominasi di kampus. Pertikaian terjadi antar mereka sendiri dan upaya memberantas orang-orang yang dianggap kontra-revolusi. Ada ratusan mahasiswa terbunuh dan konflik nanti berhenti tahun 1968 ketika pasukan buruh pekerja dan Mao sendiri ikut terlibat menghentikan konflik tersebut. Pada bulan Juli tentara kemudian menguasai secara total sekolah, perguruan tinggi, dan universitas. Dua dekade kemudian, tahun 1989, sepuluh ribu mahasiswa melakukan protes di Lapangan Tiananmen. Gerakan mereka dibalas dengan represi berdarah. Katsiaficas tidak menulis tentang gerakan mahasiswa di Indonesia tahun 1966 karena mungkin tidak mendapatkan data soal itu. Dia hanya sedikit menyinggung tentang perlawanan mahasiswa tahun 1998, gerakan Reformasi 98 yang menumbangkan pemerintahan otoriter Orde Baru Soeharto. Gerakan mahasiswa di wilayah Eropa Timur dianggap sebagai kontra-revolusi. Contohnya, Fidel Castro menyebut perlawanan di Cekoslovakia sebagai gerakan kontra-revolusi yang menyambut kapitalisme dan imperialisme. Oleh karena mereka mengkritik birokrasi dan menginginkan kebebasan berekspresi. Karya Franz Kafka sangat mempengaruhi gerakan mahasiswa dan para pemikir yang antibirokrasi. Itulah yang membuat mereka melakukan perlawanan mandiri yang terpisah dari partai.
Gerakan yang disebut Kiri Baru menolak metode pengorganisiran gaya partai kiri tradisional. Mereka memilih untuk mengorganisir diri sendiri tanpa komando struktural partai politik (leaderless). Mereka juga terdiri dari variasi kelompok sosial berbasis gender dan ras, tidak semata berdasarkan kelas sosial proletariat. Berbeda dengan konsep intelektual organik versi Gramsci di mana ada orang-orang tertentu yang menjadi representasi kelas tertindas melalui kepemimpinan partai atau organisasi-organisasi afiliasinya. Perjuangan kepeloporan partai gaya lama telah ditinggalkan, kesadaran dan kecintaan akan kebebasan dari setiap individu yang menjadi penggerak perlawanan. Pengaruh pemberontakan sesudah gerakan 60an dan 70an memang memberi pengaruh pada gerakan selanjutnya (1981 – 2012). Gerakan tanpa senjata di Jerman, berbagai perlawanan di wilayah Asia dan Eropa Timur, gerakan alter globalisasi di Amerika Latin, serta gerakan anti korupsi, protes atas ketimpangan ekonomi, dan anti otoritarinisme di Arab dan Spanyol. Semuanya menggunakan slogan revolusi damai (peaceful revolution).
Evaluasi. Reformasi atau Revolusi? Apakah gerakan mahasiswa dalam kurun waktu itu adalah sebuah revolusi atau hanya sekedar pemberontakan? Seorang aktivis dan juga filsuf Prancis, Jean-Paul Sarte, membedakan antara gerakan revolusioner dan gerakan yang hanya sekedar pemberontakan, dia mengatakan,
“The revolutionary wants to change the world; he transcends it and moves toward the future, toward an order of values which he himself invents. The rebel is careful to preserve the abuses from which he suffers so that he can go on rebelling against them…. He does not to destroy or transcend the existing order; he simply wants to rise against it.”
(Terjemahan bebas: Kaum revolusioner ingin mengubah tatanan dunia dengan nilai-nilai yang baru. Kaum pemberontak hanya melawan kekuasaan yang menindas tanpa keinginan mengubah tatanan itu.)
Marx menghendaki suatu revolusi total dengan mengganti tatanan sosial secara radikal. Hal itu diprediksi dalam teorinya tentang akumulasi modal yang membuat kekayaan terpusat sehingga menimbulkan ketimpangan ekonomi dan kondisi kerja di pabrik yang menjemukan yang akan membentuk kesadaran akan ketertindasan kaum proletar. Dengan begitu kesadaran untuk memberontak muncul untuk membebaskan diri dari belenggu sistem kapitalisme. Tetapi gerakan eros effect sejak tahun 1968 bukanlah solidaritas kelas proletar kaum buruh semata. Gerakan itu adalah solidaritas kelompok-kelompok ras, gender, dan kelas sosial yang tidak jelas yang saling bercampur. Ini adalah jenis solidaritas global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Apakah gerakan ini termasuk kategori anarko reaksioner? Suatu gerakan yang hanya merespon situasi dengan perlawanan tetapi kemudian bubar tanpa ada proyeksi politik ke depan. Apakah tidak ada upaya untuk merebut kekuasaan dan mengganti tatanan atau sistem sosial? Gerakan yang hanya sekedar melawan, meledak, dan tersiar kemudian padam.
Pasca runtuhnya Uni-Soviet pada tahun 1991, kaum liberal menyatakan bahwa demokrasi liberal adalah pemenang dalam sejarah panjang konflik antara ‘kiri dan kanan’ sampai Perang Dingin (Cold War). Demokrasi liberal dan kapitalisme dianggap mengungguli semua paham dan dengan begitu berakhirlah sejarah; the end of history. Itu tandanya ramalan Marx dengan dasar teori sejarah materialisme dialektis telah gagal. Sejarah tidak mengarah pada sosialisme ataupun komunisme. Tetapi hari ini, ketika Cina bangkit menjadi raksasa ekonomi dan bersama Rusia menciptakan blok politik dan ekonomi baru lewat BRICS, dunia mulai melihat arah baru sejarah. Demokrasi liberal dianggap sedang sekarat dan kapitalisme berubah menjadi fasisme. Tampaknya konflik-konflik lama telah mulai bermunculan kembali ketika pecah Perang Rusia-Ukraina. Demonstrasi di berbagai negara terkait operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang menangkap Presiden Nicolas Maduro, serangan terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, dan juga rencana target operasi militer selanjutnya di wilayah Amerika Latin.
Kebangkitan neoliberalisme telah mengubah kelas proletariat menjadi prekariat. Angkatan kerja yang rentan di-PHK, ketidakpastian masa depan karena penghapusan jaminan kerja, serta kurangnya perlindungan hukum. Kelas baru ini dianggap rentan untuk melakukan pemberontakan. Walaupun hari ini kita berada di tengah konsumerisme masyarakat yang cenderung mengutamakan kenyang dan terhibur sebagai gaya hidup baru. Apakah ke depan perlawanan terhadap kapitalisme hanya sekedar ‘gaya-gayaan’ kaum reaksioner? Sementara kondisi hari ini mengarah pada penciptaan kelas manusia tidak berguna (useless class) karena teknologi AI (Artificial Intelligence). Gerakan mahasiswa tahun 60an dan 70an cenderung dipengaruhi oleh anarkisme. Perlawanan yang hanya menentang dominasi, struktur, dan hirarki. Sekalipun gagal membuat revolusi tetapi gerakan mereka telah menambah tapak untuk melangkah ke arah tatanan sosial yang lebih baik. Hal ini memberikan preseden untuk dijadikan bahan evaluasi masa lalu, membaca masa kini, dan untuk menata gerakan masa depan.
Katsiaficas masih menyimpulkan bahwa rangkaian gerakan dari tahun 2021 – 2025 yang terjadi di berbagai negara sebagai bagian dari eros effect. Semua perlawanan itu terjadi secara spontan, otonom, — tidak dipimpin oleh partai politik, serikat buruh, atau organisasi lainnya yang sentralistik. Ini adalah perlawanan Gen-Z yang masih bagian dari semangat revolusioner yang cinta akan kebebasan6Lihat kumpulan tulisan dalam buku berjudul Gen Z Makes History di website eroseffect.com. Buku ini tidak memiliki penerbit dan tidak memiliki hak cipta sehingga bebas dibajak, dicetak, dan dibagikan.. Ratusan sampai ribuan orang memenuhi ruang publik, terhubung dan bersatu karena cinta.
APENDIKS
Gerakan Mahasiswa Indonesia7Lihat tulisan saya berjudul Roh Perlawanan & Pembangunan: Kisah Pergerakan Mahasiswa Indonesia yang dibawakan dalam PKKMB FBS UNIMA pada 1 Agustus 2018.
Kontra-Revolusi 1966, Reformasi 1998, dan One Piece Effect 2025
Sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia tahun 60an termasuk dalam kategori kontra-revolusi seperti di wilayah Eropa Timur. Oleh karena secara politik anti terhadap sosialisme ala Soekarno yang dinilai otoritarian dengan konsep Demokrasi Terpimpin (Guided Democracy) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dianggap kaki tangan Uni-Soviet. Memasuki tahun 70an, 90an, sampai 2000an, rangkaian aksi mahasiswa berbalik arah melawan militerisme, oligarki, kapitalisme, dan neoliberalisme. Berikut ini adalah kronologi singkatnya.
1966. Pasca peristiwa pembunuhan jendral-jendral yang dikenal dengan Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965, Soekarno dianggap tidak layak lagi memimpin negara karena berbagai persoalan yang ada dan yang sangat sensitif adalah masalah ekonomi. Konsepsi Soekarno tentang Demokrasi Terpimpin dan mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup sebagai mandataris MPRS dianggap suatu pengkhianatan terhadap demokrasi. Keinginan sang singa podium untuk membangun Indonesia yang mandiri tidak mendapat dukungan kuat dari golongan kanan sebaliknya justru mendapat sokongan dari PKI yang beraliran marxisme-leninisme. Isu coup dewan jenderal sebagai ancaman terhadap pemerintahan Soekarno dan kritik PKI terhadap golongan kanan, termasuk para jenderal yang terbunuh, semakin memperkuat keyakinan bahwa komunis adalah dalang dari peristiwa G30S.
Pada 25 Oktober 1966 berbagai elemen mahasiswa dan pelajar mendirikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI)8Kecuali organisasi mahasiswa yang dekat dengan PKI seperti Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Dua organisasi ini kemudian dibubarkan ketika Soeharto berkuasa. dengan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) yang mendorong Soekarno untuk membubarkan PKI dan organisasi terkait lainnya, merombak kabinet Dwikora, dan menurunkan harga pangan (sembako). Aksi mahasiswa ini memaksa presiden mengeluarkan Surat Perintah pada tanggal 11 Maret 1966 yang sangat dikenal dengan akronim Supersemar. Dalam pidato Soekarno yang diberi judul Jasmerah (Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah), dia menyinggung Jenderal Soeharto yang telah memanfaatkan Supersemar untuk mengambil alih kekuasaan. Aksi protes mahasiswa memang ditopang juga oleh kekuatan militer khususnya Angkatan Darat (TNI-AD) di kala itu. Soekarno pun digulingkan dan serangkaian peristiwa pembunuhan dan penganiayaan terhadap mereka yang komunis dan dituduh komunis berlangsung berentetan. Ideologi komunisme dilarang dan dimulailah periode yang dinamakan Orde Baru, sebuah republik tanpa komunisme9 Lihat TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966..
1974 – 1990. Kekuasaan Orde Baru sepenuhnya dikendalikan oleh kekuatan militer yang berafiliasi dengan mahasiswa sebelumnya menjadi rejim otokrasi sesuai dengan sistem militernya. Golongan kanan yang merasa kejatuhan Soekarno dan pembubaran PKI sebagai suatu kemenangan harus menerima kenyataan bahwa rejim yang mereka dukung tidak sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan. Aksi-aksi protes yang terus dilakukan oleh mahasiswa, karena menyadari mereka telah dimanfaatkan, mendapat tekanan dari kekuatan militer dan lenyap. Orang-orang yang tidak ingin bertanggung jawab atas keadaan, karena menganggap Orde Baru memanipulasi demokrasi, menyatakan diri sebagai Golongan Putih (Golput). Ada serangkaian aksi yang digelar dengan Tritura baru10Lihat tentang peristiwa Malari (Malapeta Lima Belas Januari) tahun 1974 terkait munculnya budaya korupsi, asisten pribadi (aspri) yang dianggap pemborosan anggaran negara, dan tuntutan menurunkan harga pangan.
Daya kritis mahasiswa dan partisipasi politiknya berusaha direduksi oleh pemerintah dengan adanya kebijakan berdasar Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0156/U/1978 jo. SKMPK Nomor 037/U/1979 Tentang Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Kordinasi Kemahasiswaan atau NKK/BKK. Mahasiswa disibukkan dengan kuliah dan mengejar sistem kredit semester untuk membuat perhatiannya terhadap masalah politik, ekonomi, sosial, dll menjadi lebih sedikit. Kaum intelektual yang memiliki tanggung jawab sosial ini dikerdilkan gerak dan cara berpikirnya dengan sistem organisasi dalam dunia pendidikan yang ada. Sesudah NKK/BKK dihapuskan tahun 1990 muncul Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK). Hal ini tetap bertujuan untuk membatasi gerak mahasiswa dan organisasinya terstruktur dan tersubordinasi dalam sistem pendidikan. Dengan begitu budaya kritik mudah dibunuh dan mahasiswa menjadi apatis terhadap berbagai persoalan yang ada terlebih lagi sumber-sumber pengetahuan kritis telah diberangus. Di tingkatan sekolah menengah juga diciptakan Organisasi Intra Sekolah (OSIS) yang bertujuan untuk sentralisasi kegiatan siswa dan dihindarkan dari aktivitas politik.
Serangkaian perlawanan mahasiswa yang terjadi dari tahun 1974 sampai 1990 tergolong tidak massif dan lemah karena kekuatan Orde Baru yang sangat kuat. Tambahan pula, ada banyak aktivis angkatan ’66 yang ada di dalam pemerintahan ini sehingga sangat mengetahui cara-cara mematahkan perlawanan mahasiswa. Orde Baru menyuburkan budaya korupsi dan pemerintahan yang dikuasai oleh keluarga dan kroni-kroni. Kebebasan berpendapat sangat terbatas dan kebebasan untuk mengelaborasi wacana-wacana kiri sangat terlarang. Dengan begitu daya kritis menjadi sangat lemah dan karena trauma menyaksikan represitas yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yang dilindungi oleh kekuatan militer.
1998. Selain peristiwa Kerusuhan 27 Juli (Kudatuli) 1996 faktor resesi ekonomi dengan turunnya nilai rupiah menjadi pemicu perlawanan massif terhadap rejim Orde Baru. Krisis moneter (krismon) ini menjadi trigger yang baik untuk membangun solidaritas melawan pemerintahan otoritarian yang telah berkuasa puluhan tahun lamanya. Mahasiswa ikut mengambil bagian penting dalam perlawan sejak awal 90an dan mengarah menjadi kelompok pro demokrasi yang membela Partai Demokrasi Indonesia (PDI) versi Megawati. 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden setelah aksi protes mahasiswa yang semakin besar dan menimbulkan kerusuhan karena berbagai peristiwa seperti Peristiwa Cimanggis, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II, dan lain sebagainya. Era baru yang disebut Era Reformasi ini sangat kental dengan tuntutan penghapusan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang sangat subur di masa Orde Baru.
Refleksi. Revolusi ’66 dan Reformasi ’98 dinilai kemudian sebagai gerakan yang ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Peristiwa ditahun 65/66 sangat kental dengan perang ideologi antara liberalisme vs komunisme sehingga perwira-perwira TNI yang mendapat pendidikan dari Amerika Serikat cenderung anti terhadap PKI dan segala yang berbau komunisme. Itu tergambar dengan munculnya PRRI/Permesta yang kebanyakan mereka dipengaruhi oleh Amerika Serikat karena kebetulan memang pernah mengikuti pendidikan militer di sana. Ada juga sebagian intelektual yang sangat dipengaruhi oleh komunisme karena memiliki hubungan dengan Partai Komunis Cina dan juga Uni Soviet. Indonesia yang sangat berpengaruh di tingkat politik internasional11Lihat tentang Gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia-Afrika. menjadi rebutan hegemoni dalam Perang Dingin. Reformasi ’98 pun ditunggangi oleh kepentingan bisnis transnasional, keluarga cendana12Rejim Soeharto dikategorikan sebagai rejim oligarkis-militeristik yang berpusat pada keluarga cendana. Lihat Winters, Jeffrey A. Oligarchy. Cambridge University Press. New York. 2011. menguasai bisnis, karena Soeharto sebagai legitimator politik, mereka menguasai arus modal yang masuk di Indonesia. Ada juga yang melihat bahwa kiblat politik Soeharto telah berubah karena kedekatannya dengan organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)13Lihat Vatikiotis, Michael R. J. Indonesian Politics Under Suharto: Order, Development, and Pressure For Change. Routledge. New York. 199. Itu yang membuat Amerika Serikat, melalui CIA (Central Intelligence of America), ikut terlibat dalam gerakan melengserkan Soeharto. Di dalam militer sendiri pun telah terjadi keretakan dengan adanya kecemburuan dari AU dan AL karena kekuasaan AD yang hampir memonopoli semua anggaran militer. Tak bisa dipungkiri pertentangan watak individu dalam struktur kekuasaan juga bisa menjadi alasan kudeta politik. Jadi gerakan 98 tidak sepenuhnya murni untuk melawan penindasan dan menjadikan bangsa dan negara lebih baik. Semua pihak memiliki kepentingan jangka pendek. Orang-orang yang awalnya berjuang demi kepentingan bersama pun sangat mudah luntur idealismenya ketika ditawarkan harta kekayaan dan jabatan.
Era reformasi juga menciptakan struktur oligarkis baru seperti cikeas di masa pemerintahan Presiden SBY dan gang solo di masa pemerintahan Presiden Jokowi, di mana pengaruh militernya masih cukup kuat. Mantan aktivis 98 dari kalangan mahasiswa sebagian ikut masuk dalam sistem kekuasaan baru. Mereka menjadi juru bicara yang apologetik dan tameng kekuasaan. Dulunya berteriak anti neolib dan anti korupsi tapi kemudian ikut bermain dalam kekuasaan menjadi elitis dan korup. Ironis tapi itu adalah pola dalam politik mahasiswa Indonesia sejak tahun 1966. Mereka yang mati dalam aksi menjadi pahlawan dan yang hidup menikmati hasil aksi menjadi lawan baru dalam aksi-aksi selanjutnya.
2025. Aksi demonstrasi karena kenaikan pajak bumi bangunan (PBB) di awal bulan agustus memicu gelombang protes di Pati Jawa Tengah. Tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo. Tagar seperti #Indonesiagelap, #resetIndonesia, #Indonesiacemas menghiasi aksi protes baik luring maupun daring. Sebagian orang yang berdiri dalam jajaran pemerintahan Prabowo adalah mantan aktivis 98. Di tengah ketimpangan ekonomi nasional di mana yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terhimpit, pemerintah malah menaikkan pajak. Ironisnya, anggota DPR diketahui ternyata menerima dana pensiun di tengah kritik terhadap kerja mereka yang tidak mencerminkan keberpihakan kepada rakyat. Kemarahan publik makin meningkat ketika beberapa anggota DPR yang sering pamer harta kekayaan, flexing, di media sosial memberikan pernyataan yang tidak etis dan berkesan menghina rakyat kecil. Gelombang aksi massa kemudian semakin membesar ketika pengemudi ojol (ojek online), kelas prekariat, bersolidaritas atas kematian seorang pengemudi ojol yang dilindas mobil polisi water canon 14 ton di tengah aksi protes di Jakarta. Tercatat ada sepuluh orang yang meninggal selama aksi protes ini. Massa aksi, termasuk mahasiswa Gen-Z, membawa bendera One Piece sebagai simbol perlawanan yang kemudian menular di berbagai aksi di daerah-daerah, bahkan menular ke aksi negara-negara lain. Aksi protes sambung menyambung di berbagai kalangan pun muncul. Terjadi pembakaran gedung DPR dan penjarahan terhadap beberapa rumah anggota DPR dan juga rumah Menteri Keuangan. Sri Mulyani dianggap dalang atau teknokrat yang membuat ekonomi Indonesia terus bergantung pada utang luar negeri. Dia dituduh agen CIA. Dalam aksi kemudian muncul rumuskan 17 + 8 tuntutan terhadap pemerintah yang harus dilakukan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Para demonstan menuntut presiden segera menarik aparat dari massa aksi dan melakukan reformasi di beberapa bidang pemerintahan. Aksi pun surut perlahan.
Aksi protes mahasiswa Gen-Z tahun 2025 di Indonesia dilihat dalam paradigma eros effect. Bendera One Piece berkibar, yang menjadi simbol perlawanan, dilihat sebagai bentuk aksi massa yang spontan, otonom, dan tidak dipimpin oleh satu partai politik. Itu menandakan bahwa gerakan mahasiswa tidak dibangun dalam proses kaderisasi birokrasi partai. Tetapi kesadaran mereka muncul dari pemahaman alternatif lewat serial anime. Itulah yang membangkitkan kesadaran mereka untuk bebas dari belenggu kekuasaan. Mereka tidak dipimpin dan diarahkan secara langsung. Leaderless. Walaupun ada anggapan bahwa kekuatan massa waktu itu terpecah antara kepentingan Jokowi bersama POLRI di satu sisi dan Prabowo bersama TNI di sisi lain. Hari ini, menjelang 28 tahun Reformasi Indonesia, harusnya mahasiswa memetik pelajaran dari sejarah gerakan. Apakah gerakannya murni karena kesadaran atau digerakan oleh elit-elit yang saling menyerang? Atau apakah kesadaran mereka juga adalah bagian dari manipulasi kekuasaan dan kelompok-kelompok kepentingan tertentu?
1 Mei 2026
