Manado, LBHManado – Terkait gagalnya bedah buku Menyingkap Tabir Kebenaran Ahmadiyah yang direncanakan digelar di kampus IAIN Manado, dua tokoh aktivis perempuan Sulawesi Utara (Sulut) angkat bicara dalam konferensi pers yang digelar di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Manado, Rabu (4/6/2025).
Ruth Wangkai menjelaskan bahwa dirinya diundang sebagai salah satu pembicara sekaligus pembeda dalam kegiatan tersebut. Dia menyebutkan, buku ini bukan serta merta hadir begitu saja, melainkan melalui proses yang panjang bahkan metode yang dibuat secara sahi digunakan pada pendekatan ilmu pengetahuan.
“Penulis buku ini bukan seorang Ahmadiyah melainkan berafiliasi dengan organisasi terbesar yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan termasuk aktif dalam jaringan Gusdurian dan PMII. Buku ini hadir bukan serta merta ada, melainkan ada penelitian dan kajian sejak dua ribu delapan belas. Pendekatan yang dipakai sebagai metodologi research yang sahi yang diterima dalam kajian ilmu agama-agama dan diterima dalam ilmu-ilmu sosial. Pendekatan partisipatif yang dilakukan penulis itu adalah salah satu yang dipakai dalam ilmu sosial dan itu juga yang kami pakai di lembaga teologi,” jelas pendeta Wangkai.
Lebih lanjut, mantan dosen Universitas Kristen Indonesia Tomohon di bidang studi agama-agama ini memaparkan, Dr. Samsi Pomalingo dalam tulisanya menemukan bahwa gerakan Ahmadiyah ini tidak hanya gerakan pembaharuan pemikiran. Aktivis perempuan yang bergerak di Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat) memahami bahwa dialog, diskusi terbuka seperti beda buku ini adalah hal yang utama dalam mencari satu kesadaran berpikir bersama.
“Dari buku ini yang saya temukan, penulis menjelaskan bahwa Ahmadiyah itu tidak hanya gerakan pembaharuan pemikiran, sebagaimana telah diawali oleh Mirzha Ghulam Ahmad. Jika kemudian ada yang kita tidak setuju dengan isi penelitian ini dipersilahkan berdialog bersama di kegiatan kan ada ruang-ruang diskusi. Berdialog itu, saling mendengarkan dan saling memahami. Saya memahami bahwa kebenaran itu ada disetiap agama bahkan di sumber tradisi, sumber kebudayaan. Kenapa kita harus menutup diri untuk belajar dari sumber-sumber itu untuk mendapatkan kebenaran? Kebenaran itu tidak tunggal tetapi kebenaran itu ada banyak sumbernya. Ketika kita memahami bahwa kebenaran itu cuma di satu tempat, berarti kita mengkerangkeng kekuasaan Tuhan. Kekuasaan Tuhan itu melampaui dari simbol-simbol keagamaan kita,” ucap Bunda, sapaan akrab.
Nur Hasanah, tokoh perempuan Sulut yang lain menambahkan, sekira delapan tahun dirinya berelasi dengan Ahmadiyah dia merasa nyaman saat komunikasi terjalin dengan baik. Tetapi, disisi lain, kebanggaan bahwa Manado salah satu kota toleran justru dicederai dengan terjadinya hal seperti ini. Dia juga menyoroti di wilayah perempuan dan anak Ahmadiyah akan menimbulkan trauma jika hal seperti ini terus terjadi.
“Bahasanya lembut. Yang paling saya apresiasi itu, responsif kebutuhan-kebutuhan jejaring. Bahkan Ahmadiyah yang saya tahu banyak memberi kontribusi kemanusiaan. Sebagai pihak yang sering berelasi dengan kelompok ‘rentan’ yang dianggap ‘minoritas’ seperti Ahmadiyah, kita tidak boleh tunduk kepada pihak-pihak yang intoleransi yang ada di Manado. Cukup Satu kali ini dan tidak ada yang kedua kalinya. Apalagi jika ada pihak-pihak yang lempar batu sembunyi tangan,” jelas aktivis perempuan dan anak yang bergerak di Swara Parangpuan Sulut.
Diketahui, kegiatan donor darah rutin dilakukan oleh jemaat Ahmadiyah dan sangat bermanfaat memberikan sumbangsih bagi kemanusiaan tanpa melihat agama dan kepercayaan, suku dan ras.
